JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026.
Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah melemah sebesar 0,14 persen ke posisi Rp18.109 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Menguat ke 6.143,54, Ini Daftar Saham Pilihan Analis Hari Ini Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi global.
Investor mulai mencari aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, salah satunya dolar AS, ketika ketidakpastian geopolitik kembali meningkat.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia lainnya juga ikut mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Dolar Taiwan menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan terbesar dengan depresiasi sebesar 0,27 persen.
Kemudian, won Korea Selatan melemah 0,05 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yuan China melemah 0,05 persen, serta dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,01 persen.
Meski sebagian mata uang Asia melemah, beberapa mata uang lainnya masih mampu bergerak positif terhadap dolar AS.
Penguatan terbesar terjadi pada ringgit Malaysia yang naik 0,08 persen.
Setelah itu, yen Jepang menguat 0,06 persen, baht Thailand naik 0,05 persen, peso Filipina menguat 0,04 persen, dan rupee India naik 0,03 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan terhadap dolar AS dalam jangka pendek.