JAKARTA– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengakhiri perdagangan di zona merah pada Selasa (28/7/2026). Pelemahan terjadi di tengah dominasi saham yang terkoreksi, dengan 380 emiten ditutup melemah hingga menyeret indeks ke level 6.130.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 55,19 poin atau 0,89 persen ke level 6.130. Sepanjang sesi perdagangan, sebanyak 281 saham berhasil menguat, 380 saham melemah, dan 304 saham lainnya bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp10,8 triliun. Sementara itu, volume perdagangan menyentuh 25 miliar saham yang berpindah tangan sepanjang hari.
Baca Juga: Rupiah Turun ke Rp18.083 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Penting The Fed Pelemahan juga terjadi pada sejumlah indeks unggulan. Indeks LQ45 turun 0,74 persen ke level 608, disusul IDX30 yang melemah 0,80 persen menjadi 342. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) terkoreksi lebih dalam sebesar 1,44 persen ke level 364, sedangkan indeks MNC36 turun 1,07 persen ke posisi 264.
Mayoritas sektor perdagangan turut berada di zona negatif. Sektor energi, bahan baku, infrastruktur, properti, transportasi, keuangan, industri, teknologi, konsumer siklikal, hingga kesehatan mengalami tekanan. Hanya sektor konsumer non-siklikal yang mampu bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.
Di jajaran saham dengan penguatan tertinggi (top gainers), PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) memimpin dengan kenaikan 33,78 persen ke level Rp198. Posisi berikutnya ditempati PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) yang melonjak 24,73 persen ke Rp1.715, serta PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL) yang menguat 24,35 persen ke level Rp285.
Sementara itu, saham yang mengalami penurunan terdalam (top losers) dipimpin PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) yang terkoreksi 14,90 persen ke Rp12.275. Disusul PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN) yang turun 14,89 persen ke Rp320, serta Ciptadana Asset Management yang melemah 13,85 persen menjadi Rp56.
Pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini memperpanjang tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik, seiring investor yang terus mencermati berbagai sentimen global maupun kondisi ekonomi dalam negeri.* (in/dh)