MAKASSAR– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proyek strategis nasional Blok Masela resmi memasuki tahap konstruksi setelah proses groundbreaking dilakukan. Pemerintah menargetkan proyek gas raksasa yang berada di Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu mulai berproduksi pada 2029 hingga 2030.
Bahlil mengatakan, Blok Masela telah melewati perjalanan panjang selama hampir tiga dekade sejak pertama kali ditemukan pada 1998. Menurutnya, proyek tersebut sempat mengalami berbagai kendala hingga melewati enam periode pemerintahan sebelum akhirnya memasuki tahap pembangunan di era Presiden Prabowo Subianto.
"Blok Masela ini sudah 28 tahun, dari tahun 1998 sudah ada dan melewati enam Presiden. Berakhir di Presiden ke-8, Presiden Prabowo," kata Bahlil usai menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar di Makassar, Sabtu (18/7/2026).
Baca Juga: GNK Sentil Hotman Paris, Minta Tak Kaitkan Nama Presiden dalam Kasus Febrie Ia menjelaskan, proyek tersebut sebenarnya pernah direncanakan untuk dieksekusi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kembali dibahas pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, pelaksanaannya terus tertunda akibat perdebatan panjang mengenai konsep pengembangan lapangan gas, yakni antara skema offshore (lepas pantai) dan onshore (darat).
Menurut Bahlil, perdebatan tersebut menyebabkan proyek bernilai investasi jumbo itu tidak kunjung berjalan, padahal manfaat ekonomi yang dihasilkan dinilai sangat besar bagi negara.
Nilai investasi Blok Masela mencapai sekitar 21 miliar dolar Amerika Serikat atau setara lebih dari Rp340 triliun. Lapangan gas tersebut diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 1.200 MMSCFD gas dan 35.000 barel minyak per hari ketika beroperasi penuh.
"Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Padahal ketika proyek berjalan, negara akan memperoleh pendapatan yang sangat besar," ujarnya.
Bahlil menambahkan, Presiden Prabowo memberikan arahan agar seluruh hambatan administrasi maupun teknis segera diselesaikan sehingga proyek dapat segera memasuki tahap pembangunan.
Ia mengaku proses penyelesaian berbagai kendala tersebut berhasil dituntaskan dalam waktu sekitar satu tahun hingga akhirnya groundbreaking dapat dilaksanakan.
"Dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, saya diminta segera mengeksekusi. Alhamdulillah, seluruh clearance sudah selesai dan groundbreaking sudah dilakukan," katanya.
Dengan dimulainya pembangunan, pemerintah optimistis target produksi pertama dapat tercapai pada rentang 2029 hingga 2030. Bahlil menilai, beroperasinya Blok Masela akan menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas.
"Insya Allah 2029 sampai 2030 sudah mulai produksi. Ini proyek yang investasinya sangat besar," tutupnya.* (k/dh)