JAKARTA – Pemerintah terus memperluas pasar ekspor nasional ke kawasan Amerika Latin. Salah satu capaian positif ditunjukkan melalui peningkatan perdagangan Indonesia dengan Peru yang kembali mencatat surplus pada periode Januari hingga Mei 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan nilai ekspor Indonesia ke Peru sepanjang lima bulan pertama tahun ini mencapai USD225,77 juta, sementara impor dari negara tersebut tercatat USD38,24 juta. Dengan capaian itu, Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar USD187,53 juta.
Menurut Budi, tren perdagangan kedua negara menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Selama periode 2021–2025, total perdagangan bilateral tumbuh 5,51 persen, sementara tren ekspor Indonesia meningkat 4,60 persen.
Baca Juga: Airlangga Ajak Tiongkok Garap Proyek PLTS 100 GW di Indonesia "Hal ini menunjukkan produk Indonesia telah memiliki daya saing di pasar Peru," ujar Budi dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Ia menjelaskan, struktur perdagangan Indonesia dan Peru saling melengkapi sehingga tidak menimbulkan persaingan langsung dengan industri dalam negeri.
Komoditas ekspor utama Indonesia ke Peru meliputi kendaraan bermotor beserta suku cadangnya, alas kaki, hingga peralatan pendingin. Sementara itu, Indonesia mengimpor biji kakao, pupuk mineral, serta sejumlah komoditas pertanian dari Peru.
Pemerintah juga menilai Indonesia–Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA) menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar Indonesia di kawasan Amerika Latin.
Selain membuka peluang perdagangan yang lebih luas, Peru dinilai memiliki posisi penting sebagai pintu masuk menuju pasar Amerika Selatan, termasuk negara-negara anggota Pacific Alliance dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Menurut Budi, implementasi IP-CEPA diharapkan mampu meningkatkan ekspor nasional, menarik investasi baru, sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja di Indonesia.
Ia menambahkan, melalui perjanjian tersebut Indonesia memperoleh tarif preferensi untuk lebih dari 7.200 pos tarif di Peru. Berbagai produk unggulan seperti kendaraan, minyak nabati, produk kulit, tekstil, hingga pakaian jadi diperkirakan menjadi sektor yang paling diuntungkan.
Pemerintah pun optimistis nilai ekspor Indonesia ke Peru dapat terus meningkat dan diproyeksikan mencapai USD745 juta pada 2045 seiring implementasi penuh kerja sama perdagangan kedua negara.* (oz/dh)