JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak perusahaan-perusahaan asal Tiongkok untuk berinvestasi dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Indonesia sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional.
Ajakan tersebut disampaikan Airlangga saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Tiongkok Wang Wentao di Shanghai. Pertemuan itu membahas penguatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi bersih, hingga pengembangan industri antara Indonesia dan Tiongkok.
Menurut Airlangga, proyek PLTS 100 GW merupakan bagian dari agenda pemerintah dalam mendukung target transisi energi sekaligus memperkuat hilirisasi industri nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Pendiri WAICO, Airlangga Sebut AI Bisa Dorong Ekonomi Digital hingga US$366 Miliar pada 2030 Pemerintah juga mengapresiasi kontribusi investasi Tiongkok dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata yang dinilai menjadi contoh keberhasilan kerja sama kedua negara di sektor energi terbarukan.
"Proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam mendukung transisi energi, pengembangan energi bersih, serta pencapaian target penurunan emisi," ujar Airlangga dalam keterangannya,dikutipSabtu, 18 Juli 2026.
Ia menilai industri panel surya di Indonesia masih memiliki peluang besar untuk berkembang melalui pembangunan rantai pasok yang lebih terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.
Selain membahas sektor energi, Airlangga juga mendorong percepatan realisasi investasi melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP). Hingga saat ini, sebanyak 30 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani dengan estimasi nilai investasi mencapai sekitar Rp37,1 triliun.
Airlangga berharap seluruh kesepakatan tersebut segera diwujudkan menjadi proyek investasi nyata. Pemerintah juga mendorong pembentukan usaha patungan (joint venture) antara perusahaan Indonesia dan Tiongkok guna mempercepat implementasi kerja sama.
Di sektor perdagangan, Indonesia terus mendorong hubungan dagang yang lebih seimbang melalui peningkatan akses pasar, penguatan hilirisasi industri, serta peningkatan ekspor produk bernilai tambah.
Menurut Airlangga, Danantara Indonesia berpotensi menjadi mitra strategis dalam menarik investasi berkualitas, memperkuat rantai pasok industri nasional, meningkatkan transfer teknologi, hingga membuka lebih banyak lapangan kerja.
Pemerintah juga berharap Tiongkok mendukung pembentukan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia serta memperkuat agenda kerja sama ekonomi regional menjelang penyelenggaraan APEC 2026.* (mt/dh)