JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Mata uang Garuda naik 65 poin atau sekitar 0,36 persen ke level Rp17.921 per dolar AS setelah mendapat dukungan dari sentimen domestik dan perkembangan ekonomi global.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran dinilai memicu kenaikan harga minyak dunia sehingga menjadi perhatian pelaku pasar global.
Menurut Ibrahim, serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap Iran memperpanjang ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia dan berpotensi kembali mendorong inflasi global.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,10 Persen ke Level 6.175, Mayoritas Saham Ditutup di Zona Hijau Iran juga dilaporkan merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Selain itu, muncul laporan bahwa kelompok Houthi telah diminta bersiap menutup jalur distribusi minyak di Laut Merah apabila konflik semakin meluas.
Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga mulai mereda. Namun, pasar masih berhati-hati karena kenaikan harga minyak dinilai dapat kembali meningkatkan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari Bank Indonesia (BI) yang merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Kuartal II 2026. Aktivitas dunia usaha tercatat meningkat dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di level 10,11 persen.
Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja sejumlah sektor utama seperti pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi, hingga pertambangan. Aktivitas ekonomi juga terdorong oleh momentum hari besar keagamaan nasional dan musim libur sekolah.
Kapasitas produksi dunia usaha pada kuartal II 2026 juga meningkat menjadi 73,8 persen dari sebelumnya 73,33 persen. Sementara kondisi likuiditas, rentabilitas, dan akses kredit dunia usaha dinilai masih berada dalam kondisi yang baik.
Meski demikian, Bank Indonesia memperkirakan aktivitas dunia usaha pada kuartal III 2026 akan sedikit melambat. Perlambatan diperkirakan terjadi seiring normalisasi aktivitas ekonomi, meskipun sejumlah sektor seperti industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan masih diproyeksikan mencatat pertumbuhan.
Sementara itu, Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia pada kuartal II 2026 berada di level 51,43 persen atau sedikit lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya sebesar 52,03 persen. Meski turun, angka tersebut masih menunjukkan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif. Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.870 hingga Rp17.930 per dolar AS pada perdagangan berikutnya, sedangkan pekan depan diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.750 hingga Rp18.050 per dolar AS.* (oz/dh)