JAKARTA – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pergerakan positif ini terjadi seiring mulai stabilnya pasar saham dan adanya tanda-tanda masuknya kembali dana asing ke pasar keuangan Indonesia.
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah pada pukul 09.05 WIB tercatat menguat sebesar 0,02 persen ke level Rp17.983 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.092, Saham Big Caps AMMN hingga TPIA Tertekan Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS, yakni naik 0,16 persen. Sementara peso Filipina menguat 0,04 persen.
Namun, tidak seluruh mata uang Asia mampu bergerak positif. Sejumlah mata uang kawasan justru mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang mengalami pelemahan terbesar dengan turun 0,18 persen.
Disusul baht Thailand dan dolar Taiwan yang masing-masing melemah 0,14 persen.
Selain itu, rupee India tercatat terdepresiasi 0,09 persen.
Yuan China dan dolar Singapura melemah 0,04 persen, yen Jepang turun 0,03 persen, sedangkan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah terjadi karena kondisi pasar ekuitas mulai membaik setelah sebelumnya mengalami tekanan.
Menurutnya, dana asing mulai kembali masuk ke pasar sehingga memberikan dukungan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.