MEDAN – Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan mencatat tren pertumbuhan pendapatan yang konsisten dalam empat tahun terakhir sejak menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Berbekal capaian tersebut, manajemen menargetkan pendapatan rumah sakit mencapai Rp203 miliar sepanjang 2026.
Wakil Direktur Keuangan RSU Haji Medan, Fakhrial Mirwan Hasibuan, mengatakan peningkatan pendapatan terus terjadi dari tahun ke tahun. Pada 2022, pendapatan rumah sakit tercatat sebesar Rp74 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp93 miliar pada 2023.
Tren positif itu berlanjut pada 2024 dengan pendapatan mencapai Rp132 miliar, dan kembali meningkat menjadi Rp176 miliar pada 2025.
Baca Juga: Ijeck Desak Jalur Kereta Medan-Aceh Segera Dilanjutkan, Solusi Kurangi Macet dan Polusi "Artinya pendapatan RS Haji Medan tumbuh cukup baik. Kami menargetkan pada tahun 2026 ini pendapatan bisa mencapai Rp203 miliar," ujar Fakhrial.
Ia menjelaskan, hingga Juni 2026, RSU Haji Medan telah membukukan pendapatan sekitar Rp114 miliar atau setara 56 persen dari target pendapatan tahun ini.
Menurut Fakhrial, peningkatan kinerja keuangan tersebut tidak lepas dari dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang difokuskan pada belanja investasi.
Investasi tersebut meliputi renovasi gedung, peningkatan fasilitas pelayanan, serta pengembangan sarana dan prasarana rumah sakit yang dinilai mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Sementara itu, Wakil Direktur Umum dan Pengembangan SDM RSU Haji Medan, Ridesman Nasution, mengatakan penerapan sistem pengelolaan keuangan BLUD telah memberikan fleksibilitas yang berdampak positif terhadap operasional rumah sakit.
Menurutnya, ketergantungan rumah sakit terhadap dana APBD untuk membiayai operasional kini jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
"Dengan fleksibilitasnya, APBD murni untuk RS Haji itu jauh berubah. Yang semula harus dibiayai semuanya, sekarang paling sekitar 20 persen saja. Dulu, 60 sampai 70 persen APBD digunakan untuk mengoperasionalkan RS ini. Sekarang 20 persen itu pun dialokasikan untuk belanja investasi," kata Ridesman.
Ia menambahkan, perubahan pola pengelolaan keuangan tersebut membuat rumah sakit semakin mandiri dalam menjalankan operasional sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran pada pembangunan fasilitas dan peningkatan pelayanan kesehatan.
Manajemen RSU Haji Medan optimistis, dengan pertumbuhan pendapatan yang stabil serta dukungan investasi yang berkelanjutan, target pendapatan sebesar Rp203 miliar pada 2026 dapat tercapai seiring meningkatnya kualitas layanan dan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.* (dh)