JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini.
Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (13/7/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 0,33 persen ke level Rp18.124 per dolar AS.
Baca Juga: Prabowo Soroti "Pemimpin Pengkhianat": Berbeda Partai Tak Masalah, Jangan Kalah Lalu Ajak Bakar-Bakar Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sebagian besar mata uang Asia lainnya.
Investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman atau safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sentimen negatif akibat kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Pasar diperkirakan masih menghindari aset berisiko (risk-off) setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas," ujar Lukman, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, situasi tersebut membuat dolar AS kembali menguat karena dianggap sebagai aset perlindungan ketika kondisi ekonomi global penuh ketidakpastian.
Selain itu, kenaikan harga energi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dunia.
"Di sisi domestik, minimnya katalis diperkirakan membuat rupiah sulit keluar dari tekanan," katanya.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang kawasan Asia.
Won Korea Selatan menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan terbesar terhadap dolar AS dengan penurunan sebesar 0,39 persen.