JAKARTA – Investasi masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi investasi terus meningkat dan bahkan mampu melampaui target pemerintah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Namun, di balik capaian tersebut muncul persoalan baru.
Baca Juga: Prabowo Minta TNI, Polri, Jaksa Introspeksi Diri: Bintang dan Sepatumu dari Rakyat! Nilai investasi yang terus bertambah ternyata tidak lagi diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Data menunjukkan, realisasi investasi pada kuartal IV 2025 mampu menyerap sekitar 754.186 tenaga kerja.
Sementara pada kuartal I 2026, jumlah tenaga kerja yang terserap justru turun menjadi 706.569 orang, meski nilai investasi tetap mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Lembaga itu menilai tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar menarik investasi sebanyak-banyaknya, tetapi memastikan investasi yang masuk memiliki kualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
Menurut laporan INDEF, salah satu penyebab utama menurunnya penyerapan tenaga kerja adalah perubahan karakter investasi yang kini lebih banyak mengarah ke sektor padat modal (capital intensive) dibanding sektor padat karya.
Investasi padat modal lebih banyak menggunakan mesin, teknologi, dan peralatan modern sehingga kebutuhan tenaga kerja menjadi lebih sedikit.
Akibatnya, meskipun nilai investasi terus meningkat, jumlah pekerja yang direkrut tidak bertambah secara signifikan.
Selain itu, INDEF juga menyoroti efisiensi investasi yang dinilai masih belum optimal.