JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih memiliki peluang menguat hingga berada di bawah level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026.
Meski demikian, pada penutupan perdagangan pasar spot, Kamis (9/7/2026), rupiah justru kembali melemah.
Rupiah ditutup di posisi Rp18.128 per dolar AS, atau melemah 114 poin (0,63 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: B50 Resmi Diluncurkan, Apa Dampaknya bagi Harga Sawit dan Petani? Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi menguat hingga berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS pada akhir tahun, apabila sejumlah faktor pendukung bergerak sesuai harapan.
"Jika semuanya menunjukkan hasil positif," kata Freddy.
Menurutnya, pergerakan rupiah sepanjang Juni 2026 relatif lebih stabil.
Kondisi tersebut didukung oleh kebijakan Bank Indonesia (BI) yang berfokus menjaga stabilitas nilai tukar, serta perubahan arah kebijakan pemerintah.
Selain itu, tekanan musiman seperti pembayaran dividen perusahaan dan kebutuhan valuta asing selama musim haji mulai mereda sehingga memberikan ruang bagi penguatan rupiah.
Namun demikian, Freddy mengingatkan bahwa stabilitas rupiah masih dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik.
"Pasar akan terus memantau perkembangan global, termasuk geopolitik dan arah suku bunga The Fed," ujarnya.
Selain faktor global, investor juga mencermati sejumlah agenda di dalam negeri, termasuk evaluasi peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings pada Juli hingga Agustus 2026 serta konsistensi kebijakan ekonomi pemerintah.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini cenderung bervariasi dengan kecenderungan menguat.