JAKARTA – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, mengaku terkejut setelah mengetahui adanya impor batu bara dari Amerika Serikat (AS).
Informasi tersebut, menurutnya, baru diketahui setelah membaca pemberitaan di surat kabar pada Rabu (8/7/2026).
Padahal, Indonesia selama ini dikenal sebagai eksportir batu bara terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 50 persen pasar global.
Baca Juga: Polisi Geledah Restoran dan Money Changer di Cipete Terkait Dugaan Korupsi Batu Bara "Saya tadi mau ke sini baca koran, terkejut saya baca Indonesia impor batu bara dari Amerika Serikat," kata Qodari dalam Bisnis Indonesia Forum bertema Reindustrialisasi Indonesia di Jakarta, Rabu.
Meski demikian, Qodari mengaku belum memastikan kebenaran informasi tersebut. Namun, apabila benar terjadi, kondisi itu dinilainya cukup memprihatinkan.
"Nah ini kan celaka bukan 13 lagi ya, celaka 19. Indonesia jual ke Singapura, Singapura jual ke Amerika, Amerika jual ke Indonesia," ujarnya.
Qodari mengatakan Presiden Prabowo Subianto terus mendorong agar sumber daya alam Indonesia tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah di dalam negeri agar memiliki nilai tambah.
Menurutnya, strategi hilirisasi menjadi bagian penting untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kemampuan industri nasional, serta memperkuat penguasaan teknologi.
"Jadi komitmen ini benar-benar bukan sekadar pidato tapi langkah nyata dari Bapak Presiden," kata Qodari.
Ia menambahkan, agenda reindustrialisasi menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas.
Sementara itu, Indonesia Mining Association (IMA) menjelaskan bahwa batu bara yang diimpor dari Amerika Serikat bukan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Komoditas yang diimpor merupakan batu bara metalurgi yang dibutuhkan industri baja.