MEDAN – Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya BSc menjajal langsung proses membatik saat mengunjungi stan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Sumut di ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026, Jumat (3/7/2026).
Stan UPTD Taman Budaya Sumatera Utara menjadi salah satu titik perhatian dalam kunjungan tersebut, terutama saat Surya menyaksikan demonstrasi membatik yang digelar di lokasi pameran.
Di sela kunjungan, Surya terlihat tertarik dan langsung mencoba membatik menggunakan canting berisi lilin panas di atas kain katun yang telah diberi pola dasar. Ia dipandu oleh Pamong Budaya Ahli Pertama UPTD Taman Budaya Sumut, Nadila Farhana dan Mai Yusnanda.
Baca Juga: PRSU 2026 Jadi Ajang Tanjungbalai Promosikan UMKM, Budaya, dan Investasi Adapun motif yang dikerjakan mengangkat logo 50 Tahun PRSU sebagai elemen utama, yang dipadukan dengan ornamen khas Sumatera Utara sebagai representasi kekayaan seni dan budaya daerah.
Keterlibatan orang nomor dua di Sumut itu dalam proses membatik disebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap pelestarian warisan budaya sekaligus dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
"Momen ini menegaskan bahwa PRSU bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga ruang promosi budaya, pemberdayaan pelaku kreatif, dan penguatan identitas budaya Sumatera Utara," demikian keterangan pihak UPTD Taman Budaya Sumut.
Di antara 22 organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Sumut, stan UPTD Taman Budaya juga menampilkan beragam karya seni rupa, hasil workshop batik, hingga produk ekonomi kreatif yang melibatkan generasi muda.
Kepala UPT Taman Budaya Sumatera Utara, Tommy Clinton Marpaung, mengaku terharu atas perhatian Wakil Gubernur terhadap pelestarian budaya. Menurutnya, hal itu menjadi dorongan moral bagi pelaku seni untuk terus berkarya.
"PRSU tidak hanya ruang rekreasi masyarakat, tetapi juga wadah strategis promosi produk unggulan UMKM dan destinasi wisata Sumatera Utara," ujarnya.
Sementara itu, Pamong Budaya Ahli Pertama Disbudparekraf Sumut, Nadila, menjelaskan bahwa stan Taman Budaya tidak hanya menampilkan batik, tetapi juga produk ekonomi kreatif berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, karya-karya tersebut merupakan pengembangan nilai budaya menjadi produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Perajin batik, Mai Harahap, alumni Institut Seni Indonesia Padang Panjang, juga turut membagikan pengalamannya menekuni seni batik sejak bangku SMK hingga kuliah.