PIDIE JAYA - Bantuan dana stimulan yang disalurkan kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah yang rusak. Sejumlah penyintas juga mengubah bantuan tersebut menjadi modal usaha guna membangun kembali perekonomian keluarga pascabencana.
Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, berbagai usaha kecil mulai tumbuh di kawasan hunian sementara (huntara). Kondisi tersebut menjadi tanda bangkitnya semangat masyarakat untuk kembali mandiri setelah terdampak banjir dan kerusakan yang ditimbulkan bencana.
Salah satu penyintas yang merasakan manfaat bantuan tersebut adalah Milawati, warga Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu. Dana stimulan yang diterimanya digunakan untuk memperbaiki rumah yang rusak dan membersihkan sisa lumpur akibat banjir.
Baca Juga: Satgas PRR Percepat Pembangunan Huntap, 620 Keluarga Penyintas Bencana di Agam Segera Direlokasi Namun, proses pemulihan yang dijalaninya tidak berjalan mulus. Saat rumahnya masih dalam tahap pembersihan, banjir kembali melanda kawasan tersebut sehingga memperlambat proses perbaikan.
Meski demikian, Milawati memilih untuk tidak menyerah. Bersama keluarganya, ia membuka usaha kecil di kawasan huntara dengan menjual berbagai makanan ringan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Hasil jualan ini kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu ekonomi keluarga," ujar Milawati saat ditemui di Kompleks Huntara Desa Meunasah Lhok, awal Juni 2026.
Milawati mengatakan bantuan stimulan sebesar Rp8 juta yang diterimanya, ditambah bantuan dana koperasi sebesar Rp200 ribu, sangat membantu keluarganya melewati masa-masa sulit pascabencana. Saat ini ia tinggal bersama suaminya di huntara, sementara anak-anaknya bekerja di luar daerah dan satu orang masih menempuh pendidikan di pesantren.
Kisah serupa juga dialami Salwati. Warga Desa Meunasah Lhok itu memanfaatkan sebagian dana bantuan yang diterimanya sebagai modal usaha kecil di kawasan huntara.
"Jualan ini untuk memenuhi uang belanja hari-hari," kata Salwati.
Berbagai makanan dan minuman dijualnya untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar sekaligus menjadi sumber penghasilan baru di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan pascabencana.
Tumbuhnya usaha-usaha kecil di kawasan huntara menunjukkan bahwa bantuan yang disalurkan melalui Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tidak hanya berfungsi memulihkan kerusakan fisik akibat bencana, tetapi juga menjadi fondasi bagi pemulihan ekonomi masyarakat.
Melalui dukungan pemerintah dan kerja sama berbagai pihak, masyarakat Pidie Jaya perlahan mulai membangun kembali kehidupan mereka. Kisah Milawati dan Salwati menjadi bukti bahwa di balik musibah yang melanda, masih ada semangat untuk bangkit, mandiri, dan menata masa depan yang lebih baik.*