JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kuat meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global. Hal tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinilai tetap resilien meskipun sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Direktur Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik OJK, Nailin Ni'mah, mengatakan tekanan terhadap IHSG memang masih berlangsung sepanjang Juni 2026. Bahkan indeks saham sempat turun hingga berada di bawah level psikologis 6.000 akibat sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan dunia.
Meski demikian, OJK melihat kondisi pasar modal nasional masih relatif stabil. Likuiditas pasar dinilai tetap memadai, aktivitas transaksi mulai menunjukkan perbaikan, serta tekanan jual dari investor asing masih berada dalam batas yang terkendali.
Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah 1 Persen ke Level 6.157 "Terdapat tekanan terhadap IHSG yang masih berlanjut pada Juni 2026 dan sempat turun di bawah level 6.000. Namun di tengah ketidakpastian global, pasar modal Indonesia masih menunjukkan resiliensi yang tetap terjaga," ujar Nailin dalam kegiatan yang berlangsung di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan data perdagangan terbaru, IHSG tercatat berada di level 6.158,29 atau melemah sekitar 1 persen. Pelemahan tersebut melanjutkan tren koreksi yang terjadi sejak perdagangan sehari sebelumnya.
Tak hanya pasar saham, OJK juga mencatat pasar obligasi domestik masih menunjukkan kinerja yang stabil di tengah meningkatnya risiko global. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan Indonesia masih terjaga.
Selain itu, industri pengelolaan investasi juga disebut terus mencatatkan pertumbuhan positif. Dana kelolaan dan aktivitas investasi sepanjang tahun berjalan atau year-to-date masih menunjukkan peningkatan yang cukup baik.
Di sisi lain, jumlah investor pasar modal Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan. OJK mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) kini telah mencapai 27 juta investor.
Menurut Nailin, peningkatan jumlah investor tersebut menjadi bukti bahwa minat masyarakat terhadap investasi di pasar modal masih tinggi. Kondisi itu sekaligus memperkuat peran pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional.
"Pertumbuhan jumlah investor yang signifikan menjadi 27 juta investor serta aktivitas penghimpunan dana korporasi yang tetap kuat menunjukkan pasar modal masih menjalankan fungsinya secara optimal bagi pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menegaskan komitmennya untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan melalui sejumlah reformasi pasar modal.
Salah satu langkah yang tengah diperkuat adalah kewajiban pengungkapan Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pemilik manfaat sebenarnya dari suatu perusahaan terbuka.