JAKARTA – Pemerintah menjalankan program pemulihan lahan pertanian di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Program ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus pemulihan ekonomi masyarakat.
Fokus utama pemulihan mencakup pengembalian produktivitas lahan, pengembangan kawasan pertanian berbasis karakteristik wilayah, serta diversifikasi komoditas pangan dengan pendekatan adaptasi perubahan iklim.
Baca Juga: PHI Gandeng Pemkot Samarinda dan Kejati Kaltim, Klaim Selamatkan Potensi Produksi Rp480 Miliar per Tahun Pemerintah menargetkan sistem produksi pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap percepatan pemulihan sektor pertanian di tiga provinsi tersebut.
Ia menyebut langkah cepat seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar lahan pertanian kembali produktif.
"Bapak Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran, mulai dari menteri, gubernur, hingga bupati dan wali kota, agar penanganan lahan pertanian terdampak bencana di tiga provinsi berjalan maksimal," kata Amran saat meninjau rehabilitasi lahan di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Pemerintah mengalokasikan lebih dari Rp1 triliun untuk mendukung percepatan pemulihan, yang mencakup perbaikan infrastruktur pertanian, irigasi, hingga bantuan sarana produksi bagi petani.
Program tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam Rencana Induk (Renduk) Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
Dokumen ini menjadi acuan utama pemulihan jangka menengah yang dirancang untuk periode 2026–2028.
Renduk tidak hanya menitikberatkan pada pemulihan fisik, tetapi juga penguatan sistem pangan daerah melalui nilai tambah hasil pertanian, pengembangan koperasi, akses pasar, serta penguatan ketahanan ekonomi petani.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan Renduk menjadi instrumen utama dalam mengoordinasikan pemulihan lintas sektor.