JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). IHSG ditutup melemah 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,785 di tengah derasnya aksi jual yang melanda pasar saham domestik.
Sejak awal perdagangan, IHSG sudah bergerak di zona merah setelah dibuka pada level 5.919,565. Tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar membuat indeks sempat menyentuh level terendah harian di posisi 5.644,234.
Meski sempat memangkas pelemahan menjelang penutupan dan bergerak hingga level tertinggi harian 5.924,508, IHSG tetap gagal keluar dari zona negatif.
Baca Juga: IHSG Turun ke Level 5.878 di Awal Perdagangan, Apa Penyebabnya? Data perdagangan menunjukkan sebanyak 623 saham ditutup melemah, sementara hanya 106 saham yang menguat dan 85 saham lainnya stagnan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang tinggi dengan volume perdagangan mencapai 38,59 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp24,65 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,27 juta kali transaksi.
Menanggapi kondisi tersebut, Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meminta investor tetap tenang dan mengedepankan analisis fundamental dalam mengambil keputusan investasi.
"Kami mengimbau investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional, memperhatikan fundamental perusahaan, serta menyesuaikan investasi dengan profil risiko masing-masing," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta.
Jeffrey menegaskan fundamental perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat. Berdasarkan laporan keuangan emiten hingga akhir 2025, pertumbuhan laba perusahaan tercatat mencapai lebih dari 21 persen.
Kinerja positif tersebut berlanjut pada kuartal pertama 2026. Khusus emiten yang tergabung dalam indeks LQ45, pertumbuhan laba bersih tercatat mencapai 29,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, sebanyak 80 persen perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih pada kuartal I 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan mencerminkan daya tahan fundamental emiten di tengah tekanan pasar.
BEI juga mengingatkan investor bahwa sejumlah kebijakan penyangga pasar masih berlaku, termasuk kebijakan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) serta penundaan implementasi short selling.
Di sisi lain, Jeffrey meminta investor lebih selektif terhadap informasi yang beredar di pasar. Ia menyoroti beredarnya informasi tidak akurat terkait isu Indonesia akan masuk kategori frontier market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).