JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp17.966 per dolar Amerika Serikat (AS), mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut Ibrahim, investor saat ini masih mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon Selatan. Di saat bersamaan, Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Kuwait dan Bahrain.
Baca Juga: Inflasi Sumut Tembus 4,35 Persen, Pengamat Pesimis Kembali ke Target BI "Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar cenderung mencari aset aman dan meninggalkan mata uang negara berkembang," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak dunia juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Data ekonomi AS yang menunjukkan peningkatan jumlah lowongan kerja pada April 2026 semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, sentimen negatif turut datang dari kenaikan inflasi Mei 2026 yang tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April yang berada di angka 0,13 persen.
Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh peningkatan harga pangan, energi, harga yang diatur pemerintah, serta tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah.
Meski demikian, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan pada April 2026 sebesar 89,1 juta dolar AS. Surplus tersebut menjadi yang ke-72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan April terutama ditopang sektor nonmigas yang menyumbang surplus sebesar 3,53 miliar dolar AS.
Namun demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus perdagangan mulai menyempit tajam akibat terganggunya rantai pasok global dan ketidakpastian distribusi energi dunia.
"Secara statistik surplus perdagangan memang masih ada, tetapi trennya mulai menyempit. Ini menunjukkan adanya tekanan terhadap ketahanan eksternal Indonesia," katanya.