JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius, mulai dari sektor fiskal, moneter, hingga sektor riil.
Ia bahkan menyebut beban utang negara telah berada pada level yang mengkhawatirkan.
Pernyataan itu disampaikan Hasto saat memberikan amanat dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin, 1 Juni 2026.
Baca Juga: Rico Waas: Nilai Pancasila Harus Hidup dalam Pelayanan Publik di Kota Medan Menurut Hasto, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan adanya tekanan yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
Ia menyoroti defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama 2026 serta kondisi keseimbangan primer Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih negatif.
"Indonesia saat ini menghadapi persoalan yang sangat serius terhadap fiskal, moneter, dan kehidupan perekonomian di sektor riil. Defisit transaksi berjalan dan keseimbangan primer yang negatif sangat mengkhawatirkan. Utang harus dibayar dengan utang, gali lubang tutup lubang," kata Hasto.
Selain persoalan fiskal, Hasto juga menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut dia, kondisi tersebut bukan sekadar gejolak pasar, melainkan mencerminkan persoalan struktural dalam perekonomian nasional serta menurunnya tingkat kepercayaan terhadap kondisi ekonomi.
Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai masih mengedepankan belanja negara bernuansa populis dibandingkan memperkuat ketahanan fiskal jangka panjang.
"Usulan ketahanan fiskal yang selama ini disampaikan PDI Perjuangan masih diwarnai berbagai bentuk belanja negara yang bersifat populis dengan harapan elektoral," ujarnya.
Hasto menilai dampak perlambatan ekonomi sudah mulai dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya angka kemiskinan, sulitnya memperoleh pekerjaan, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Berbagai persoalan kenaikan harga pangan, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan PHK kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan," katanya.