JAKARTA — Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan semakin mendekati "angka keramat" versi warganet di kisaran Rp17.845 per dolar Amerika Serikat, yang merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia, 17-8-1945.
Pada pembukaan perdagangan Rabu (27/5/2026), rupiah tercatat melemah ke level Rp17.802 per dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah 0,21 persen dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.796 per dolar AS.
Baca Juga: Bobby Nasution Salat Iduladha di Binjai, Salurkan 167 Hewan Kurban di Sumut Mata uang Garuda itu menjadi yang terlemah di kawasan Asia pada perdagangan pagi, di tengah mayoritas mata uang regional justru menguat terhadap dolar AS.
Hingga pukul 09.04 WIB, hanya peso Filipina yang turut berada di zona merah.
Sementara itu, won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di Asia, disusul baht Thailand, dolar Taiwan, yuan China, dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga yen Jepang yang bergerak tipis menguat.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat di kawasan selatan Iran.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pasar keuangan global cenderung menghindari risiko (risk off), sehingga berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap cenderung melemah dalam beberapa waktu ke depan, dengan kisaran perdagangan Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Ia juga menyoroti dampak lanjutan dari pelemahan rupiah terhadap sektor riil. Kenaikan biaya impor dan energi dinilai berpotensi meningkatkan beban produksi industri.
"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, tetapi juga konflik geopolitik global yang mendorong kenaikan biaya produksi," ujarnya.
Sejumlah sektor disebut mulai terdampak, mulai dari elektronik, otomotif, hingga tekstil.