JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto menerima sejumlah tokoh ekonomi nasional yang terdiri dari mantan menteri hingga eks Gubernur Bank Indonesia (BI) di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (22/5/2026). Pertemuan tersebut membahas pengalaman Indonesia menghadapi krisis ekonomi global, khususnya pada periode 2005 hingga 2008.
Tokoh yang hadir dalam pertemuan itu di antaranya mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, mantan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, serta mantan Wakil Menteri PPN Lukita Dinarsyah Tuwo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan para tokoh tersebut menyampaikan berbagai catatan penting terkait kondisi ekonomi Indonesia saat menghadapi tekanan global pada masa lalu.
Baca Juga: Ketua DPD Dukung BUMN Ekspor SDA Bentukan Prabowo: Bukan Ganggu Pasar "Dalam pertemuan tersebut mereka menyampaikan beberapa catatan yang terjadi, termasuk saat inflasi mencapai sekitar 17 persen hingga 27 persen akibat krisis minyak dunia tahun 2005," kata Airlangga kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Menurut Airlangga, para tokoh juga memaparkan dampak lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus USD 140 per barel dan memicu pelemahan nilai tukar rupiah kala itu.
Meski demikian, Airlangga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding periode krisis sebelumnya. Ia menyebut fundamental ekonomi nasional masih stabil dengan tekanan depresiasi rupiah yang relatif terkendali.
"Kalau dibandingkan dengan kondisi hari ini, fundamental ekonomi kita lebih kuat. Depresiasi rupiah juga hanya sekitar 5 persen, jauh lebih rendah dibanding masa krisis sebelumnya," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo juga disebut memberikan arahan kepada jajaran kabinet untuk terus memperkuat sektor keuangan dan menjaga stabilitas sistem perbankan nasional.
Airlangga mengatakan pemerintah bersama Menteri Keuangan akan terus memantau regulasi sektor finansial agar ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.
"Bapak Presiden meminta kami menjaga prudensial perbankan dan memperkuat sektor finansial nasional, termasuk memperhatikan penguatan permodalan perbankan," jelasnya.
Pemerintah berharap pengalaman menghadapi krisis di masa lalu dapat menjadi pelajaran penting dalam mengantisipasi potensi tekanan ekonomi global ke depan.*
(d/dh)