JAKARTA - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang terus dihantui ketakutan terhadap gejolak ekonomi global, mulai dari fluktuasi kurs dolar Amerika Serikat hingga ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM).
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 dalam rapat paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai paradoksal.
Baca Juga: Prabowo Beberkan Cetak Biru APBN 2027, Ekonomi Ditargetkan Tumbuh hingga 6,5 Persen Selama tujuh tahun terakhir, ekonomi nasional disebut tumbuh stabil di kisaran 5 persen per tahun.
Namun di sisi lain, angka kemiskinan justru meningkat dan jumlah kelas menengah mengalami penyusutan.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut menunjukkan ada persoalan mendasar dalam arah pembangunan ekonomi nasional yang selama ini dijalankan.
"Kalau sistem ini diteruskan, kemungkinan besar kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut. Takut kurs dolar, takut BBM enggak cukup, takut ini, takut itu," kata Prabowo dalam pidatonya.
Presiden menilai Indonesia seharusnya memiliki fondasi ekonomi yang kuat karena didukung sumber daya alam melimpah dan neraca perdagangan yang selama ini cenderung surplus.
Ia menegaskan Indonesia sebenarnya tidak pernah kalah dalam perdagangan internasional karena nilai ekspor lebih besar dibandingkan impor.
"Kalau ilmu dagang, berarti yang kita jual lebih banyak dari yang kita beli. Harusnya negara ini tidak pernah mengalami krisis ekonomi," ujarnya.
Prabowo juga menyinggung rendahnya rasio penerimaan negara terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang masih berada di kisaran 11 persen pada 2024.
Angka itu dinilai tertinggal dibanding sejumlah negara lain seperti Meksiko, Filipina, India, hingga Kamboja.