JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto memaparkan langsung cetak biru Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 dalam pidato perdananya pada Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025–2026 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dalam pemaparannya, Prabowo menegaskan APBN 2027 dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Presiden menyoroti situasi geopolitik dan geoekonomi dunia yang masih dibayangi konflik serta ketegangan di berbagai kawasan, mulai dari Eropa hingga Timur Tengah.
Baca Juga: Prabowo Kaget Ekonomi RI Tumbuh 35 Persen, Tapi Kemiskinan Justru Naik: Saya Seperti Dipukul di Ulu Hati Menurut dia, kondisi global tersebut tetap berdampak terhadap Indonesia meskipun berada jauh secara geografis.
"Dalam rangka itu saya memandang APBN bukan sekadar dokumen. Tapi wujud alat perjuangan sebagai bangsa. Alat melindungi rakyat, memperoleh dasar-dasar dan sendi-sendi ekonomi bangsa," ujar Prabowo.
Ia menegaskan APBN harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memastikan arah pembangunan nasional tetap berjalan sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam postur APBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara berada pada kisaran 11,82 persen hingga 12,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara belanja negara diproyeksikan mencapai 13,62 persen hingga 14,80 persen PDB.
Dari sisi fiskal, pemerintah menargetkan defisit APBN tetap terkendali di kisaran 1,80 persen hingga maksimal 2,40 persen terhadap PDB.
"Dan kita akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini," kata Prabowo.
Pemerintah juga menetapkan sejumlah asumsi dasar ekonomi makro untuk 2027.
Pertumbuhan ekonomi ditargetkan berada di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen, sementara inflasi diperkirakan tetap terjaga pada level 1,5 persen hingga 3,5 persen.