JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengambil langkah strategis dengan menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) senilai target US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya memperkuat pasokan dolar di dalam negeri sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mengalami tekanan.
Purbaya menjelaskan, penerbitan surat utang tersebut diharapkan dapat menambah suplai dolar di pasar domestik sehingga membantu meredakan gejolak nilai tukar. Selain itu, pemerintah juga telah melakukan intervensi di pasar obligasi dalam beberapa hari terakhir.
"Yang global (bond) 2 sampai 3 miliar dolar. Itu tambahan supply dolar di pasar dalam negeri," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Defisit APBN April 2026 Turun Jadi 0,64 Persen, Purbaya Klaim Kondisi Semakin Sehat Ia menambahkan, dalam kondisi pelemahan rupiah yang dipengaruhi faktor eksternal seperti dinamika geopolitik global, investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Tercatat sekitar Rp 1,3 triliun dana asing masuk dalam beberapa hari terakhir.
"Sudah masuk Jumat, Senin, Selasa hari ini Rp 1,3 triliun masuk," jelasnya.
Menurutnya, masuknya kembali investor asing turut mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi di pasar sekunder serta memperkuat sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyampaikan imbauan kepada pelaku pasar yang masih memegang dolar AS agar mempertimbangkan untuk melepas asetnya. Ia optimistis rupiah akan kembali menguat seiring langkah stabilisasi yang dilakukan pemerintah.
"Kalau Anda pegang dolar sekarang, ya jual saja. Nanti nggak untung," katanya.
Pemerintah menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal global. Oleh karena itu, stabilitas pasar keuangan terus dijaga melalui kebijakan fiskal dan pengelolaan pasar obligasi.*
(d/dh)