JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada pada level yang wajar dan belum memasuki fase kritis. Saat ini rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS.
Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, pemerintah mengandalkan instrumen manajemen kas APBN guna mengontrol sentimen pasar surat utang negara.
Purbaya mengatakan skema Bond Stabilization Fund (BSF) secara penuh belum diterapkan karena kondisi pasar dinilai masih relatif terkendali.
Baca Juga: Prabowo Akan Hadiri Rapat Paripurna DPR Bahas RAPBN 2027 "Ini baru cash management. Kalau framework nanti saya panggil SMV dan lain-lain untuk ikut. Tapi sekarang belum separah itu, keadaannya masih relatif lumayan lah," ujar Purbaya usai sidang debottlenecking di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, pemerintah telah menyiapkan pagu anggaran hingga Rp2 triliun per hari untuk menyerap Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder demi menjaga stabilitas harga obligasi.
Namun, realisasi intervensi pada hari sebelumnya disebut baru mencapai Rp600 miliar.
Purbaya menilai rendahnya angka tersebut menunjukkan aksi jual investor global terhadap SBN Indonesia belum terlalu besar seperti yang dikhawatirkan pasar.
"Kemarin aja saya sudah targetkan Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar. Artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kita memastikan harga bond tetap terkendali," katanya.
Ia menjelaskan langkah stabilisasi pasar tersebut bukan kebijakan mendadak, melainkan operasi terukur yang telah dilakukan secara bertahap sejak pekan lalu.
Dana Rp600 miliar yang digelontorkan pemerintah disebut mampu mengompensasi seluruh volume SBN yang dilepas investor asing dalam perdagangan sebelumnya.
Pemerintah optimistis strategi pembelian obligasi secara konsisten dapat menjaga yield SBN tetap kompetitif sekaligus menahan arus keluar modal asing dari pasar domestik.*
(oz/dh)