JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.
Berdasarkan data Trading View, rupiah dibuka di level Rp17.685 per dolar AS, melemah 17 poin atau 0,10 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di saat yang sama, indeks dolar AS justru ikut terkoreksi 0,14 persen ke level 99,05. Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi.
Baca Juga: IHSG Cuma Naik 0,04%! Investor Tunggu Keputusan “Panas” BI Yen Jepang melemah 0,10 persen dan won Korea terdepresiasi 0,58 persen, sementara ringgit Malaysia dan yuan China masing-masing menguat tipis 0,02 persen dan 0,05 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang dipicu lonjakan harga minyak mentah serta kekhawatiran pasar terhadap eskalasi tensi geopolitik internasional.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pasar masih bereaksi terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai belum menghasilkan terobosan signifikan terkait ketegangan global.
"Kekecewaan investor terhadap minimnya terobosan dalam pertemuan tersebut membuat aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah, kembali ditinggalkan," ujar Lukman, Selasa, 19 Mei 2026.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor disebut masih mencermati potensi eskalasi konflik yang dapat menjaga harga energi tetap tinggi dalam jangka pendek.
Dari dalam negeri, pernyataan Presiden Prabowo Subianto juga disebut ikut mempengaruhi sentimen pasar, meski tekanan utama masih berasal dari faktor eksternal global.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa rupiah yang berada di atas Rp17.600 saat ini telah berada di bawah nilai fundamentalnya atau dalam kondisi undervalued.
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Perry menyebut nilai fundamental rupiah seharusnya berada di sekitar Rp16.500, sejalan dengan asumsi makro APBN 2026 yang berada pada kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.