JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Tekanan pasar global dan kekhawatiran suku bunga tinggi membuat IHSG turun cukup dalam hingga menyentuh level 6.599.
Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG terkoreksi 124,079 poin atau turun 1,85 persen ke posisi 6.599. Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka di level 6.628 dengan pergerakan tertinggi di 6.631 dan terendah di 6.398.
Total volume perdagangan saham tercatat mencapai 32,023 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp20,717 triliun. Sebanyak 125 saham menguat, 616 saham melemah, dan 79 saham lainnya stagnan.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.668 per Dolar AS, Dipicu Inflasi AS dan Harga Minyak Pelemahan IHSG dipicu meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap era suku bunga tinggi global.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan IHSG berpotensi kembali menguji level support apabila tekanan pasar masih berlanjut.
"Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini," ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Dari pasar global, konflik AS-Iran masih menjadi perhatian utama investor. Ketegangan geopolitik dinilai dapat mempengaruhi pergerakan indeks saham dunia selama pekan ini.
Selain itu, kenaikan yield US Treasury tenor 30 tahun hingga 5,1 persen turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global akibat lonjakan harga minyak mentah.
Pelaku pasar juga menantikan rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS setelah data inflasi Amerika tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Sementara itu, pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping disebut belum menghasilkan kesepakatan besar sehingga menambah sentimen negatif di pasar keuangan global.
Dari kawasan Asia, investor juga mencermati data ekonomi China seperti industrial production dan retail sales. Bank Sentral China atau PBoC diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama di level 3 persen dan 3,5 persen.*
(mt/dh)