JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal perdagangan Senin (18/5/2026).
Mata uang Garuda dibuka melemah ke posisi Rp17.657,5 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring penguatan indeks dolar dan tekanan dari pasar keuangan global.
Berdasarkan data TradingView, rupiah melemah 61 poin atau sekitar 0,35 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng dan Cabai Naik Hari Ini, Tapi Beras Justru Turun Drastis Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,07 persen ke level 99,35.
Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Yen Jepang turun 0,12 persen, won Korea melemah 0,56 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,56 persen, dan rupee India turun 0,21 persen.
Kondisi ini menunjukkan penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan di pasar valuta asing global.
Pelaku pasar menilai rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan sepanjang Mei 2026.
Sentimen eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan mata uang.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut rupiah tengah berada dalam tekanan berat, terutama saat aktivitas pasar domestik terbatas.
Menurut dia, Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan intervensi di pasar offshore untuk menahan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh area Rp17.600.
"Jika tren penguatan dolar AS berlanjut, level psikologis rupiah akan kembali diuji," ujarnya.