JAKARTA - Di tengah kembali melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat pada 2026, publik kembali menengok salah satu periode paling krusial dalam sejarah ekonomi Indonesia: krisis moneter 1998.
Saat itu, rupiah sempat terpuruk hingga sekitar Rp 17.000 per dolar AS, disertai guncangan hebat pada sektor perbankan, pasar keuangan, hingga stabilitas sosial-politik nasional.
Namun dalam masa kepemimpinan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, rupiah perlahan menunjukkan pemulihan signifikan hingga kembali menguat ke kisaran Rp 6.500 per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan.
Baca Juga: Wagub Sumut Sebut HUT ke-154 Jadi Momentum Kota Binjai Naik Kelas Jadi Kota Kompetitif dan Maju Salah satu momentum yang kembali banyak disorot adalah pidato Habibie dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di London, Inggris, pada 1 April 1998.
Dalam forum yang dihadiri para pemimpin negara Asia dan pelaku ekonomi internasional tersebut, Habibie berupaya meyakinkan dunia bahwa Indonesia masih memiliki peluang kuat untuk bangkit dari krisis.
Ia menegaskan bahwa krisis justru dapat menjadi titik balik untuk perbaikan fundamental ekonomi nasional.
"Faktanya, kita sedang keluar dari masalah ini, dan jika kita berhasil melewatinya, kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya karena kita akan belajar dari kesalahan kita sendiri dan juga dari kesalahan orang lain," ujar Habibie, dikutip dari AP Archive.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian mengambil keputusan dalam situasi krisis.
Menurutnya, waktu adalah faktor penting dalam proses pemulihan ekonomi, sehingga pemerintah tidak boleh membiarkan ketidakpastian berlarut-larut.
"Cara terbaik untuk meyakinkan Anda bahwa Anda harus berubah adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan menyelesaikannya. Waktu adalah uang, jadi kita tidak boleh membuang waktu," lanjutnya.
Reformasi perbankan dan fondasi pemulihan
Di tengah tekanan krisis, pemerintah saat itu juga menjanjikan reformasi besar-besaran pada sektor keuangan.