JAKARTA – Nilai tukar Rupiah Indonesia diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi melemah hingga menembus level Rp17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah.
"Indeks dolar kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan akan melebar dengan support di level 97.300 dan resistance di 101.100," kata Ibrahim, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: 10 Mata Uang dengan Nilai Terendah terhadap Dolar AS, Rupiah Masuk! Ia memperkirakan pelemahan rupiah masih berlanjut dan berpotensi bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS dalam sepekan mendatang.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor global, mulai dari dinamika geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dari sisi geopolitik, ia menyoroti upaya Presiden AS Donald Trump yang disebut mendorong kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.
Jika jalur tersebut kembali stabil, menurutnya akan memengaruhi pergerakan harga komoditas global, termasuk emas.
Selain itu, perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga dinilai turut memengaruhi sentimen pasar.
Ibrahim menilai pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping berpotensi membuka jalan penyelesaian konflik dagang kedua negara.
"Hal ini bisa memberikan sentimen positif terhadap pasar global," ujarnya.
Faktor lain yang turut diperhatikan pasar adalah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.
Ibrahim menyebut peluang kenaikan suku bunga masih terbuka karena inflasi di AS dinilai tetap tinggi.