JAKARTA – Sejumlah mata uang dunia tercatat memiliki nilai tukar yang sangat rendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam perbandingan sederhana, semakin besar jumlah unit mata uang lokal yang dibutuhkan untuk mendapatkan US$1, semakin rendah nilai mata uang tersebut terhadap dolar.
Meski demikian, nilai tukar tinggi tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi suatu negara secara keseluruhan.
Baca Juga: Ekonom Kritik Pernyataan Prabowo soal “Warga Desa Tidak Pakai Dolar”: Orangutan Juga Kena Dampaknya, Pak! Faktor seperti inflasi jangka panjang, kebijakan moneter, sejarah redenominasi, hingga dinamika pasar turut memengaruhi besaran kurs mata uang.
Berdasarkan data kurs yang dihimpun, rial Iran tercatat sebagai mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar AS.
Untuk mendapatkan US$1, dibutuhkan sekitar 1.318.130 rial Iran.
Di posisi berikutnya terdapat pound Lebanon dengan kurs sekitar 89.500 per US$1, disusul dong Vietnam sebesar 26.350 per US$1, leone Sierra Leone sebesar 22.683 per US$1, serta kip Laos sebesar 21.808 per US$1.
Mata uang rupiah Indonesia juga masuk dalam daftar 10 besar mata uang dengan nilai terendah terhadap dolar AS.
Saat ini, Rupiah Indonesia diperdagangkan di kisaran Rp17.460 per US$1, menempatkannya di posisi keenam dalam daftar tersebut.
Setelah rupiah, terdapat som Uzbekistan dengan kurs 12.072 per US$1, franc Guinea sebesar 8.735 per US$1, guarani Paraguay sebesar 6.081 per US$1, dan ariary Madagaskar sebesar 4.158 per US$1.
Para ekonom menilai, posisi mata uang dalam daftar tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kekuatan ekonomi suatu negara, karena perlu dilihat bersama indikator makroekonomi lainnya seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas fiskal.*
(cb/ad)