BANDUNG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi maupun elpiji subsidi selama harga minyak dunia masih berada di kisaran rata-rata 100 dolar Amerika Serikat per barel.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Rapimnas SOKSI di Bandung, Jawa Barat, Sabtu malam (16/5/2026).
Ia menyebut kebijakan tersebut merupakan keputusan pemerintah di tengah tekanan krisis energi global yang masih berfluktuasi.
Baca Juga: Prabowo Minta Publik Sabar Soal Program Pemerintah: Jangan Nilai Sekarang, Tunggu 20 Tahun untuk Lihat Hasilnya! "Sudah diputuskan, selama harga minyak belum melewati rata-rata 100 dolar per barel, BBM subsidi dan elpiji subsidi tidak akan dinaikkan, meski konsekuensinya tidak ringan," kata Bahlil.
Ia mengakui kebijakan itu sempat memunculkan perdebatan di internal pemerintah, bahkan ada usulan untuk menyesuaikan harga BBM mengikuti kondisi pasar global.
Namun, pemerintah memilih tetap menahan kenaikan demi menjaga daya beli masyarakat.
"Masa rakyat lagi susah, kita mau menaikkan harga BBM," ujarnya.
Bahlil juga menegaskan bahwa kebijakan energi tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang kemudian diformulasikan bersama kementerian terkait serta dukungan legislatif.
Menurutnya, keputusan menahan harga BBM subsidi tidak lepas dari konsekuensi fiskal berupa tambahan beban subsidi negara.
Namun, pemerintah menilai perlindungan terhadap masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, Bahlil turut menyoroti ketimpangan pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia.
Ia menyebut adanya peningkatan konsentrasi kekayaan pada kelompok tertentu dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di sektor energi dan pertambangan.