JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak terhadap strategi bisnis kalangan pengusaha nasional. Sejumlah pelaku usaha kini memilih menahan ekspansi, melakukan efisiensi, hingga memangkas biaya operasional demi menjaga stabilitas perusahaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, tekanan nilai tukar rupiah yang kini berada di atas Rp17.500 per dolar AS menjadi perhatian serius dunia usaha karena memengaruhi struktur biaya dan arus kas perusahaan.
"Tekanan yang terjadi saat ini bukan bersifat sementara dan berpotensi terus berlangsung selama ketidakpastian global belum mereda," ujar Shinta, Jumat (15/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.516 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Penguatan Dollar Jadi Pemicu Utama Menurutnya, pengusaha kini mulai menerapkan strategi selective growth atau ekspansi secara lebih selektif. Investasi yang dinilai berisiko tinggi dan sangat bergantung pada kondisi global mulai ditunda sementara waktu.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat manajemen risiko melalui penggunaan instrumen lindung nilai (hedging), penataan ulang struktur utang, hingga efisiensi belanja modal dan operasional.
Pelaku usaha juga mulai mencari alternatif bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Namun, kemampuan industri dalam negeri dinilai masih belum sepenuhnya mampu menggantikan kebutuhan bahan baku impor.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Sarman Simanjorang menilai pelemahan rupiah telah memberi tekanan psikologis bagi dunia usaha.
Menurutnya, kenaikan biaya impor dan logistik berpotensi meningkatkan ongkos produksi di berbagai sektor industri.
"Kalau kondisi ini berlangsung lama, tentu akan memengaruhi ekspansi bisnis hingga penyerapan tenaga kerja," kata Sarman.
Ia menjelaskan, saat ini pelaku usaha masih berupaya menahan kenaikan harga produk agar tidak langsung dibebankan kepada konsumen. Langkah efisiensi dilakukan mulai dari penghematan biaya produksi hingga penyesuaian ukuran produk.
Namun jika rupiah terus melemah, pengusaha khawatir daya beli masyarakat ikut tertekan akibat kenaikan harga barang dan inflasi yang semakin tinggi.*
(k/dh)