JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Mata uang Garuda tercatat menyentuh level Rp 17.517 per dolar AS pada pukul 12.00 WIB.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, konflik di kawasan tersebut, terutama di sekitar Selat Hormuz, menjadi faktor utama yang mendorong ketidakpastian pasar global dan penguatan indeks dolar.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Stabilitas Ekonomi Butuh Waktu dan Penyesuaian Bertahap "Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini," ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, pasar juga masih mencermati potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan disebut meningkat setelah muncul laporan terkait serangan terhadap instalasi minyak Iran yang dikaitkan dengan sejumlah negara di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.
Selain faktor eksternal, Ibrahim juga menyoroti kondisi domestik Indonesia, termasuk perlambatan sektor manufaktur dan tekanan daya beli masyarakat yang dinilai turut memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.
Ia bahkan mempertanyakan kesesuaian data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya tercatat cukup tinggi, namun dianggap belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.*
(k/dh)