JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons keras berbagai kritik yang meragukan kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat 5,61 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal I 2026.
Purbaya mengaku heran dengan sikap sebagian ekonom domestik yang tetap skeptis meski data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang solid. Ia menyebut, kritik terhadap angka ekonomi kerap muncul baik saat kondisi membaik maupun melambat.
"Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut. Jadi teman-teman ekonom tuh maunya apa?" kata Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Baca Juga: Said Abdullah Yakin APBN 2026 Tetap Aman Meski Isu Defisit dan Saldo Menipis Muncul Sebelumnya, sejumlah pihak menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen tersebut yang dinilai masih dipengaruhi efek basis rendah atau low base effect, mengingat pertumbuhan pada kuartal I 2025 berada di level 4,87 persen.
Namun, Purbaya menepis anggapan itu dengan menyebut tren pertumbuhan sudah menguat sejak kuartal IV 2025 yang tercatat sebesar 5,39 persen. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan sekadar anomali statistik.
"Luar negeri menghargai kita, dalam negeri enggak ini, tapi dengan data yang aneh. Dengan sudut pandang yang aneh menurut saya," ujarnya.
Purbaya menambahkan, pemerintah akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan belum akan melakukan penyesuaian kebijakan pajak lebih lanjut sebelum pertumbuhan ekonomi konsisten mencapai 6 persen selama beberapa kuartal berturut-turut.
"Kalau sudah 2-3 bulan berturut-turut di atas 6 persen, kita akan pertimbangkan pajak-pajak yang lain," kata Purbaya.
Ia juga menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat keadilan dalam ekosistem ekonomi, termasuk memastikan pelaku usaha konvensional tetap bisa bersaing di tengah perkembangan ekonomi digital.*
(in/dh)