JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan hanya sebagai kebijakan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi rakyat dari level desa hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, menyebut program MBG telah menunjukkan dampak ekonomi nyata di lapangan seiring hampir rampungnya pembangunan infrastruktur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.
"Dapurnya sudah terbangun dan ekonomi rakyat mulai bergulir. Program ini sangat atraktif dalam membantu sektor pertanian dan perdagangan di pasar tradisional," ujar Riandy dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Semarak HUT YKB ke-46, Bhayangkari Aceh Perkuat Kebersamaan Lewat Olahraga dan Bazar Ia menyebut progres pembangunan SPPG telah mencapai sekitar 90 persen, dengan 27 ribu dari target 30 ribu dapur sudah siap beroperasi. Kondisi ini dinilai membuka peluang besar penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah.
Dampak ekonomi juga mulai terlihat di daerah, salah satunya di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Keberadaan dapur MBG mendorong perputaran ekonomi lokal, mulai dari petani hingga ibu rumah tangga yang dilibatkan sebagai tenaga kerja.
Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan program ini menyerap hasil pertanian warga sekitar sekaligus memberdayakan masyarakat lokal.
"Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk petani dan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan," kata Edwin.
Meski demikian, Riandy mengingatkan pentingnya tata kelola yang adaptif agar program tetap berjalan efektif tanpa membebani fiskal negara. Ia juga menekankan perlunya pengawasan kualitas dan distribusi agar manfaat program benar-benar tepat sasaran.
"Pengawasan lapangan perlu diperkuat agar standar kualitas tetap terjaga dan anggaran benar-benar berdampak pada penerima manfaat," ujarnya.
Menurutnya, MBG berpotensi menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi nasional, meski tidak bisa menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan ekonomi.*
(mt/dh)