JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (7/5/2026), melanjutkan tren penguatan sejak perdagangan sebelumnya.
Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah pelemahan dolar AS dan sentimen positif terhadap prospek ekonomi domestik.
Berdasarkan data RTI Infokom pada pukul 09.08 WIB, rupiah menguat 0,24 persen ke posisi Rp17.330 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.178, Saham BREN hingga TLKM Pimpin Kenaikan Sepanjang awal perdagangan, rupiah bergerak pada rentang Rp17.292 hingga Rp17.372 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia lainnya.
Yen Jepang tercatat naik 0,10 persen, yuan China menguat 0,08 persen, dolar Singapura naik 0,06 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,05 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, won Korea Selatan terkoreksi 0,28 persen, baht Thailand melemah 0,22 persen, dan dolar Taiwan turun tipis 0,02 persen.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan dolar AS dipengaruhi respons pasar terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Menurut Ibrahim, pasar menyambut positif pernyataan Trump mengenai penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai sinyal meredanya ketegangan geopolitik.
"Pasar melihat adanya peluang menuju kesepakatan yang lebih komprehensif dengan Iran sehingga memberikan tekanan terhadap dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen menjadi faktor pendukung penguatan rupiah.
Menurut dia, angka tersebut menunjukkan tren pemulihan ekonomi nasional yang mulai menguat.