JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (6/5/2026). Rupiah tercatat naik 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.387 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, terutama respons pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
Menurutnya, pernyataan tersebut memberi harapan meredanya ketegangan geopolitik, meski belum ada respons resmi dari pihak Iran.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Pesan Prabowo: Duit Negara Banyak, Rakyat Jangan Takut! "Pasar merespons positif potensi kesepakatan damai, meski detailnya belum jelas," ujar Ibrahim dalam risetnya.
Trump sebelumnya menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, seiring kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran. Meski demikian, blokade terhadap pelabuhan Iran disebut tetap berjalan.
Dari sisi domestik, sentimen positif juga datang dari pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia menunjukkan percepatan pertumbuhan pada kuartal I 2026.
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen dinilai menjadi sinyal perbaikan kinerja ekonomi nasional. Pemerintah pun berkomitmen menjaga momentum tersebut melalui kebijakan lanjutan dan penguatan koordinasi dengan Bank Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan paket stimulus tambahan guna mendorong aktivitas ekonomi dan menjaga kepercayaan pasar.
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar masih mencermati berbagai indikator ekonomi, termasuk Indeks Keyakinan Konsumen yang mengalami penurunan pada Maret 2026.
Ke depan, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dan berpotensi melemah dalam kisaran Rp17.380 hingga Rp17.420 per dolar AS.*
(oz/dh)