JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued atau lebih lemah dibandingkan nilai fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Hal tersebut disampaikan Perry usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Perry menegaskan, secara fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi kuat. Pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,11 persen, inflasi rendah, kredit perbankan tumbuh positif, serta cadangan devisa yang dinilai masih solid.
Baca Juga: Gubernur BI Paparkan 7 Strategi Penguatan Rupiah ke Prabowo, Ini Daftar Langkahnya "Nilai tukar sekarang itu undervalued. Ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Fundamental kita kuat," ujar Perry.
Meski demikian, Perry menjelaskan ada sejumlah faktor yang menekan rupiah hingga melemah di pasar. Faktor tersebut terbagi menjadi dua, yakni faktor global dan faktor musiman.
Dari sisi global, tekanan berasal dari penguatan dolar Amerika Serikat, tingginya harga minyak dunia, kenaikan yield US Treasury, serta kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS yang memicu aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Terjadi pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," katanya.
Sementara dari sisi musiman, Perry menyebut periode April hingga Juni memang selalu menjadi masa meningkatnya permintaan dolar di dalam negeri. Hal ini dipicu oleh kebutuhan pembayaran dividen, kewajiban utang luar negeri, hingga kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji.
"Nah memang secara musiman April, Mei, Juni ini permintaan dolar meningkat," jelasnya.
Meski demikian, Perry memastikan bahwa kondisi ini bersifat sementara. BI meyakini rupiah akan kembali stabil dan berpotensi menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional.
"Tapi rupiah ini undervalued dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat," tegasnya.*
(d/dh)