JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Senin (4/5/2026). Rupiah tercatat turun 57 poin atau sekitar 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Dari faktor global, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya pembebasan kapal di Selat Hormuz turut memicu ketidakpastian di pasar.
Selain itu, dinamika geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat juga menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: BPS Catat Impor Perhiasan dari Australia Melonjak 469 Persen saat Harga Emas Turun "Ketegangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan global," ujar Ibrahim dalam risetnya.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 masih mencatatkan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Namun, kondisi tersebut belum cukup kuat menahan tekanan terhadap rupiah.
Surplus terjadi karena nilai ekspor sebesar 22,53 miliar dolar AS, meski turun 3,10 persen secara tahunan. Sementara itu, impor tercatat sebesar 19,21 miliar dolar AS atau tumbuh 1,51 persen.
Di sisi lain, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tanda pelemahan. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global mencatat PMI Indonesia berada di level 49,1 pada April 2026. Angka ini menandakan kontraksi dan menjadi yang terendah dalam sembilan bulan terakhir.
Kontraksi tersebut dipicu oleh penurunan volume produksi yang terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat.
Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya masih akan fluktuatif dan berpotensi melemah di kisaran Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.*
(in/dh)