JAKARTA - Pemerintah memulai babak baru program hilirisasi nasional dengan mendorong pembangunan 13 proyek strategis senilai sekitar Rp116 triliun pada 2026. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Peresmian tahap awal proyek tersebut ditandai dengan groundbreaking Danantara Fase II oleh Presiden Prabowo Subianto di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
"Hari ini cukup bersejarah, kita memulai hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis," ujar Prabowo, dikutip Jumat, 1 Mei 2026.
Baca Juga: Seskab Ungkap Isi Taklimat Prabowo di Apel Dansat TNI 2026, Tekankan Peran Komandan sebagai Garda Terdepan Presiden menegaskan hilirisasi merupakan strategi jangka panjang untuk mendorong industrialisasi berbasis sumber daya dalam negeri, mulai dari sektor energi hingga pertanian.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pihaknya fokus mengoptimalkan aset strategis BUMN guna memperkuat pembiayaan proyek hilirisasi. Menurutnya, sinergi antar-lembaga menjadi kunci keberhasilan proyek berskala besar tersebut.
Di sektor perkebunan, implementasi hilirisasi tahap kedua mulai berjalan melalui pembangunan fasilitas pengolahan kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Proyek ini digarap oleh subholding PTPN III (Persero) bersama PTPN IV PalmCo sebagai bagian dari transformasi industri sawit nasional.
Direktur Bisnis PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, mengatakan pengembangan industri turunan sawit bertujuan mengurangi ketergantungan impor energi, khususnya bahan bakar solar.
"Kebutuhan solar kita masih sangat besar. Melalui biodiesel berbasis sawit, kita berupaya memperkuat pasokan dari dalam negeri," ujarnya.
Fasilitas yang dibangun di Sei Mangkei mencakup industri pangan dan energi dalam satu kawasan terpadu. Pabrik oleofood akan memproduksi margarin dan shortening dengan kapasitas 35.000 ton per tahun serta cocoa butter substitusi sekitar 25.000 ton per tahun.
Selain itu, pabrik biodiesel berkapasitas 450.000 ton per tahun juga tengah dibangun dan ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028.
Direktur PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menyebut pengolahan sawit di dalam negeri mampu meningkatkan nilai tambah hingga belasan kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah.