JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada perdagangan Jumat, 24 April 2026.
Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.280 per dolar Amerika Serikat, menguat 6 poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan terbatas rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan Asia yang cenderung bervariasi terhadap dolar AS.
Baca Juga: IHSG Dibuka di Zona Merah, Saham Perbankan dan Energi Serempak Melemah Sejumlah mata uang regional justru melemah, di antaranya yuan China yang turun 0,10 persen, peso Filipina melemah 0,34 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,13 persen.
Sementara baht Thailand tercatat menguat tipis 0,02 persen.
Pergerakan serupa juga terjadi pada mata uang Asia lainnya.
Dolar Singapura menguat 0,01 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan turun 0,20 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, pergerakan juga terpantau beragam.
Euro dan dolar Kanada masing-masing menguat tipis 0,01 persen, sedangkan franc Swiss melemah 0,01 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berada dalam tekanan di tengah penguatan dolar AS yang ditopang kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat. Kondisi itu dipicu meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
"Rupiah masih berpeluang melemah terhadap dolar AS seiring kenaikan harga minyak dan yield obligasi AS di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah," ujar Lukman, Jumat, 24 April 2026.
Meski demikian, ia menyebut perpanjangan gencatan senjata Israel–Lebanon dalam beberapa pekan terakhir dapat sedikit meredakan tekanan terhadap rupiah.