JAKARTA – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, memastikan pemerintah telah menyiapkan solusi terkait utang proyek kereta cepat Whoosh. Langkah selanjutnya, pemerintah akan segera melakukan negosiasi dengan pihak China.
Rosan menyebut, solusi penyelesaian utang tersebut telah dibahas dalam rapat bersama sejumlah pejabat terkait, termasuk menteri koordinator dan menteri keuangan. Namun, ia belum membeberkan secara rinci skema yang akan digunakan.
"Solusinya sudah ada dan akan ditindaklanjuti oleh tim untuk berbicara dengan pihak China. Insyaallah bisa selesai," ujar Rosan saat ditemui di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Khalid Basalamah Penuhi Panggilan KPK, Diperiksa soal Dugaan Korupsi Kuota Haji Diketahui, proyek kereta cepat Jakarta–Bandung tersebut menelan biaya hingga 7,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp124 triliun. Angka ini mencakup pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar 1,21 miliar dolar AS dari investasi awal.
Sebagian besar pendanaan proyek ini berasal dari pinjaman luar negeri, termasuk dari lembaga keuangan China dengan porsi mencapai sekitar 75 persen. Kondisi ini membuat beban utang menjadi salah satu tantangan utama dalam operasional proyek.
Selain itu, perusahaan operator proyek, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), juga harus menanggung beban bunga utang yang diperkirakan mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun. Hal ini turut memengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
Pengamat BUMN menilai, tingginya biaya investasi dan belum optimalnya jumlah penumpang menjadi faktor yang menekan pendapatan proyek. Pada semester I 2025, KCIC masih mencatatkan kerugian meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah berharap, melalui negosiasi yang akan dilakukan dengan pihak China, solusi yang diambil dapat meringankan beban utang sekaligus menjaga keberlanjutan operasional proyek strategis nasional tersebut.*
(in/dh)