JAKARTA - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyebut proyek energi hijau dan energi baru terbarukan (EBT) menjadi magnet baru bagi investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia.
Menurut Rosan, tren investasi global saat ini semakin mengarah pada sektor yang berdampak positif terhadap lingkungan dan keberlanjutan.
"Ini sejalan dengan keinginan investasi terutama dari luar negeri. Karena ini adalah investasi yang punya dampak positif terhadap kehidupan dan environment ke depannya," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: RI Kejar Investasi Rp 13.000 Triliun hingga 2029, Rosan Sebut Target dari Bappenas untuk Dorong Ekonomi 8 Persen Ia menambahkan, berbagai program pemerintah di sektor energi bersih dinilai sesuai dengan minat (appetite) investor global, sehingga peluang investasi di Indonesia terus meningkat.
Pemerintah, kata dia, juga berkomitmen mempercepat target Net Zero Emission (NZE) dari 2060 menjadi 2050. Upaya ini dilakukan melalui pengembangan berbagai proyek energi ramah lingkungan.
Salah satu langkah konkret adalah percepatan konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan kapasitas PLTS mencapai 100 gigawatt (GW).
Selain itu, proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geothermal juga mulai menarik minat investor, termasuk dari Jepang.
"Hal-hal seperti ini, selain stabilitas pemerintah, juga program prioritas pemerintah sejalan dengan minat mereka untuk berinvestasi di Indonesia," jelasnya.
Rosan berharap meningkatnya investasi di sektor energi hijau tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu mendorong penyerapan tenaga kerja dalam negeri.
Pemerintah pun membuka peluang pemberian insentif bagi investor yang berkomitmen pada pengembangan energi terbarukan, terutama yang memiliki dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja.
"Kalau investasi di bidang renewable dengan penyerapan tenaga kerja tinggi, kita terbuka untuk memberikan insentif," tegasnya.*
(an/dh)