JAKARTA — Rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan Selasa (21/4/2026). Mata uang Garuda naik 25 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.143 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, terutama terkait perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, pasar masih mencermati arah pembicaraan damai antara kedua negara yang hingga kini belum menunjukkan kepastian.
Baca Juga: Kemenkeu Lanjutkan Penataan Organisasi, Purbaya Lantik Pejabat Eselon I dan II "Trump mengkonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk pembicaraan lebih lanjut minggu ini," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Ia menjelaskan, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, terutama dengan berakhirnya gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan perkembangan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, termasuk sidang konfirmasi pejabat The Fed yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter global.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia masih cukup tangguh di tengah tekanan global. Stabilitas inflasi, defisit fiskal yang terjaga, serta dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut menjadi faktor penopang utama.
Pemerintah juga terus mendorong investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas sebagai pilar pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan Rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.140 hingga Rp17.180 per dolar AS, seiring masih kuatnya sentimen global.*
(oz/dh)