JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali bergerak defensif pada awal perdagangan Senin, 20 April 2026.
Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah dibuka stagnan di level Rp17.170 per dolar Amerika Serikat (AS) dan cenderung melemah ke kisaran Rp17.162 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS yang naik 0,21 persen ke level 98,3.
Baca Juga: Indonesia Setop Impor Solar Mulai Juli 2026, Mentan: Sawit Energi Masa Depan Penguatan dolar dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Angkatan Laut AS dilaporkan menyita kapal Iran, yang kemudian direspons dengan eskalasi di kawasan Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak 7,09 persen ke level US$96,79 per barel, dari sebelumnya US$90,38 pada penutupan akhir pekan lalu.
Kenaikan harga energi ini turut memperburuk sentimen pasar global dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk di Asia.
Sejumlah mata uang regional tercatat melemah terhadap dolar AS, di antaranya won Korea Selatan yang turun 1,11 persen, yen Jepang 0,34 persen, dolar Singapura 0,29 persen, dan ringgit Malaysia 0,16 persen.
Tekanan global ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat.
Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya juga mengingatkan bahwa ekonomi global berada dalam risiko menuju perlambatan yang lebih dalam.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menegaskan bahwa dampak konflik geopolitik tidak akan cepat pulih meskipun ketegangan mereda, karena telah terlanjur memengaruhi sistem ekonomi global.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah juga berpotensi menambah tekanan inflasi impor, terutama dari kenaikan harga energi.
Pemerintah sebelumnya telah menaikkan harga sejumlah bahan bakar non-subsidi, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.