JAKARTA – Langkah Amerika Serikat (AS) memblokade Selat Hormuz dinilai berpotensi memicu gejolak besar, termasuk berdampak pada perekonomian global dan Indonesia. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Asra Virgianita, mengatakan blokade tersebut dapat memicu kenaikan harga energi global serta meningkatkan inflasi, terutama bagi negara-negara importir minyak.
"Tindakan AS memblokade Selat Hormuz sudah pasti berdampak besar, apalagi jika berlangsung lama," ujar Asra, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga: Sekjen Golkar: Prabowo dan Bahlil “Banting Tulang” Jaga Indonesia dari Ancaman Krisis Energi Ia menjelaskan, dampak lanjutan dari kebijakan tersebut juga akan dirasakan Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Selain itu, pelemahan ekonomi global akibat ketegangan geopolitik diperkirakan akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Di sisi lain, biaya impor juga berpotensi meningkat.
"Jika situasi berlangsung lama, hal ini akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia karena ekonomi global melemah, sementara biaya impor meningkat," jelasnya.
Asra juga menilai langkah yang diambil AS merupakan bagian dari diplomasi koersif untuk menekan Iran dan sekutunya. Namun, efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada durasi penerapannya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade dilakukan untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Ia bahkan memperingatkan kapal perang Iran yang mendekati area blokade akan dihancurkan.
Militer AS diketahui telah memberlakukan pembatasan terhadap kapal dari berbagai negara yang hendak menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Langkah ini diambil setelah upaya perundingan antara Washington dan Teheran tidak mencapai kesepakatan. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.*
(d/dh)