JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) masih menunjukkan tekanan pada perdagangan awal, Jumat, 10 April 2026.
Rupiah offshore tercatat stagnan di level Rp17.086 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,33 persen di posisi yang sama.
Tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh penguatan harga minyak dunia.
Baca Juga: KUR BNI 2026 Resmi Hadir! UMKM Bisa Pinjam Hingga Rp500 Juta, Bunga Rendah 6 Persen Minyak mentah Brent tercatat naik 0,88 persen ke level US$96,76 per barel pada awal perdagangan, setelah sebelumnya sempat turun tajam 13,29 persen ke US$94,75 per barel pada perdagangan Rabu, 8 April 2026.
Kenaikan harga minyak ini dipengaruhi gangguan pasokan global, termasuk penurunan kapasitas produksi Arab Saudi lebih dari 500 ribu barel per hari serta terganggunya jalur pipa alternatif di kawasan strategis yang selama ini menjadi penyangga distribusi minyak global.
Di sisi lain, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen, dengan salah satu faktor utama berasal dari tekanan harga energi global yang masih tinggi.
Sentimen eksternal tersebut diperburuk oleh meningkatnya ketidakpastian fiskal di dalam negeri.
Investor disebut mencermati sejumlah kebijakan belanja pemerintah, termasuk pengadaan kendaraan listrik untuk program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN).
Berdasarkan temuan Center for Budget Analysis (CBA), pengadaan lebih dari 20 ribu unit sepeda motor listrik tersebut ditaksir mencapai nilai triliunan rupiah.
Perbedaan data harga per unit yang muncul di ruang publik turut menambah sorotan terhadap transparansi kebijakan fiskal.
Meski pemerintah menyampaikan adanya upaya efisiensi anggaran, pasar menangkap sinyal yang dinilai belum sepenuhnya konsisten.
Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap kredibilitas arah kebijakan fiskal Indonesia.