JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) Kamis (9/4/2026) tercatat stagnan.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah offshore dibanderol Rp17.030/US$, hampir sama dengan penutupan kemarin yang berada di Rp17.029/US$.
Tak lama setelah dibuka, rupiah kembali melemah tipis 0,06% ke level Rp17.040/US$.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Masuknya Islam di Indonesia: Antara Gujarat, Persia, Arab, dan Tiongkok Pelemahan ini terjadi meski indeks dolar terhadap enam mata uang utama global turun 0,73% ke posisi 99,13, seiring kabar gencatan senjata antara AS dan Iran.
Mata uang Asia lainnya justru menunjukkan pelemahan. Ringgit Malaysia memimpin koreksi, disusul baht Thailand, yen Jepang, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yuan offshore.
Sementara itu, dolar Hong Kong relatif stabil dengan perubahan hanya 0,01%.
"Pasar masih berhati-hati. Pemulihan pasokan energi kemungkinan tidak langsung terjadi walau gencatan senjata AS-Iran telah disepakati. Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup, dan serangan Israel ke Lebanon menjadi risiko tambahan bagi kestabilan geopolitik," ujar analis pasar keuangan.
Kenaikan harga minyak mentah turut menekan rupiah. Harga Brent naik 2,55% menjadi US$97,17 per barel, setelah sebelumnya turun tajam.
Dari sisi domestik, katalis positif masih terbatas.
Cadangan devisa Indonesia tercatat menurun tiga pekan berturut-turut, sementara pertumbuhan ekspor melambat menjadi 1,01% secara tahunan.
Surplus ekspor Februari mencapai US$1,28 miliar, di bawah ekspektasi pasar sebesar US$1,58 miliar.
Kontraksi terjadi pada ekspor batu bara, turun 8,31% secara bulanan dan 15,65% secara tahunan menjadi US$2,25 miliar.