JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hingga menembus level Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (7/4/2026).
Merespons kondisi tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia," ujar Destry dalam keterangan tertulis.
Baca Juga: Pasar Saham Loyo, IHSG Parkir di 6.971 Terimbas Isu AS vs Iran Ia menjelaskan, Bank Indonesia akan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter yang dimiliki, termasuk intervensi di pasar valuta asing.
Intervensi tersebut dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta Non Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dolar AS pada pagi hari tercatat berada di level Rp 17.078 atau menguat 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Destry menambahkan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan dan nilai tukar.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih memiliki penopang dari sisi fundamental ekonomi, terutama sebagai negara eksportir komoditas.
"Kenaikan harga komoditas akibat kondisi global dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia sehingga mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar," kata dia.
Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan yang konsisten dan terukur guna meredam volatilitas di pasar keuangan.*
(d/dh)